Header Ads

Breaking News
recent

Perhatian dan Kasih Sayang Kunci Keberhasilan Pendidikan Inklusi

Latar Belakang Banyaknya permasalahan yang muncul dalam pengimplementasian pendidikan inklusi adalah keniscayaan. Tidak perlu kaget, panik apalagi berlpolemik. Memberi pendidikan khusus pada anak inklusi saja muncul banyak kendala apalagi mengintegrasikan pendidikan inklusi pada kelas-kelas regular sudah pasti akan timbul masalah yang lebih kompleks. Sekali lagi harus disadari dengan kesadaran tinggi bagi para pengelola pendidikan inklusi bahwa permasalahan yang mereka hadapi adalah sebuah keniscayaan. Sama halnya dengan hak anak penyandang inklusi untuk mendapatkan pendidikan yang sama dengan teman-teman mereka yang normal adalah juga sebuah keniscayaan. Anak inklusi menggantungkan hidupnya pada perhatian dan kasih sayang orang lain. Anak inklusi terlahir dan tertakdir dengan segunung beban permasalahan di pundaknya. Keterbatasan-keterbatasan yang mereka miliki telah membuat mereka harus menghadapi permasalahan super berat untuk bisa menyamakan dirinya dengan teman-teman mereka yang lebih beruntung memiliki fisik dan mental yang normal. Untuk bisa hidup normal mereka harus berjuang keras dengan segala keterbatasannya. Walau hampir sudah dapat dipastikan, perjuangan mereka tidak akan pernah tercapai tanpa uluran tangan orang-orang terdekat dan orang-orang yang peduli yang tulus ikhlas membantu dengan penuh perhatian dan kasih sayang. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI Nomor 70 tahun 2009 tentang Pendidikan Inklusi Bagi Peserta Didik yang Memiliki Kelaianan dan Memiliki Potensi Kecerdasan dan/atau Bakat Istimewa harus dimaknai sebagai bentuk penyadaran, atau kalau tidak boleh dikata sebagai bentuk pemaksaan kepada insan pendidikan untuk segera sadar bahwa pendidikan tidak hanya untuk anak-anak yang normal saja. Ada ribuan anak abnormal, anak-anak inklusi yang berkebutuhan khusus yang juga memiliki hak sama untuk mendapatkan pendidikan. Peraturan menteri tersebut juga harus disadari sebagai bentuk tantangan akan segera munculnya permasalahan di lapangan. Perhatian dan kasih sayang adalah kunci dari semua permasalahan pengimplementasian pendidikan inklusi. Kebutuhan dasar yang paling mendasar bagi anak-anak inklusi untuk bisa hidup dalam kesejajaran dengan teman-teman mereka yang normal termasuk hak mendapatkan pendidikan adalah perhatian dan kasih sayang. Dengan kasih sayang dari semua orang yang terlibat dalam pendidikan inklusi, baik orang tua siswa, siswa, guru, sekolah maupun pemerintah, maka semua masalah akan kalah. Contoh permasalahan yang muncul dalam pelaksanaan sekolah inklusi menurut persepsi guru (Tarnoto, Nisa; 2013; Permsalahan-Permasalahan yang Dihadapi Sekolah Penyelenggara Pendidikan Inklusi Pada Tingkat SD ; http://journal.uad.ac.id/index.php/HUMANITAS/article/view/3843/2111HUMANITAS vol. 3 No.1; diakses tanggal 20 november 2017) adalah a) Permasalahan orang tua yaitu : kurangnya kepedulian orang tua, kurangnya pemahaman orang tua tentang inklusi, kurangnya kesabaran orang tua terhadap anaknya dan kurangnya toleransi dari orang tua siswa regular. b) Permasalahan yang dihadapi guru antara lain : kurangnya kompetensi guru dalam menangani anak inklusi, kesulitan dalam kegiatan belajar mengajar, kurangnya pemahaman guru tentang anak inklusi, latar belakang pendidikan guru yang tidak sesuai, dan kurang sabarnya guru. c) Permasalahan siswa antara lain : anak inklusi dengan permasalahan berbeda memerlukan penanganan berbeda, anak inklusi kesulitan mengikuti pelajaran, anak inklusi belum bisa mengikuti peraturan sehingga mengganggu KBM, dan siswa reguler yang belum terbiasa atas kehadiran anak inklusi. d) Permasalahan kesiapan sekolah. e) Permasalahan sistem dukungan. Perhatian dan Kasih Sayang Melarutkan Ego Permasalahan Dengan mengedepankan pendekatan hati nurani melalui pemberian perhatian dan kasih sayang kepada siswa yang berkebutuhan khusus akan mampu mengalahkan semua permasalahan pelaksanaan pendidikan inklusi di sekolah. Permasalahan yang muncul (Tarnoto, Nisa; 2013) seperti permasalahan orang tua, guru, siswa, kegiatan belajar mengajar, kesiapan sekolah maupun daya dukung dapat diatasi bila semua yang terlibat dalam pendidikan inklusi mulai orang tua, siswa, guru, sekolah dan pemerintah mengedepankan perhatian dan kasih sayang sepenuh hati dengan tulus ikhlas untuk bersama-sama memartabatkan anak-anak inklusi yang berkebutuhan khusus hingga meraih kesejajaran hidup dengan terpenuhinya hak azasi atas pendidikan mereka. Permasalahan Orang Tua. Permasalahan kurangnya kepedulian orang tua terhadap anaknya yang menyandang inklusi dapat diatasi dengan mengundang orang tua ke sekolah atau sekolah melakukan kunjungan home visit untuk menjelaskan kepada orang tua tentang betapa pentingnya perhatian dan kasih sayang. Pemberian perhatian dan kasih sayang orang tua dapat berupa kepedulian orang tua terhadap semua permasalahan yang dihadapi anak baik di rumah maupun di sekolah, tidak melakukan tindakan kekerasan baik berupa fisik maupun kata-kata. Orang tua harus sering menguatkan hati dan memberi motivasi kepada anaknya. Permasalahan kurangnya pemahaman orang tua tentang inklusi dapat dilakukan dengan memberikan pengetahuan tentang siapa anak-anak berkebutuhan khusus. Bahwa anak berkebutuhan khusus tidak hanya diderita oleh anaknya saja, anak berkebutuhan khusus banyak jenisnya, dan yang lebih penting adalah bahwa anak berkebutuhan khusus sangat memerlukan perhatian dan kasih sayang ekstra dan spesifik. Spesifikasi tersebut diberikan karena anak berkebutuhan khusus memiliki hambatan dalam pertumbuhannya dan memiliki karakteristik khusus yang berbeda dengan anak yang normal. (Mubarakan, Munzalan; 2016; Jenis_jenis Anak Berkebutuhan Khusus, Ciri-Ciri dan Terapi; http://simomot.com/2016/09/01/jenis-jenis-anak-berkebutuhan-khusus-ciri-ciri-dan-terapinya; diakses pada tanggal 20 November 2017) Permasalahan kurangnya kesabaran orang tua terhadap anaknya yang berkebutuhan khusus adalah masalah klasik yang disebabkan oleh kurang dimilikinya rasa kasih sayang yang hakiki. Orang tua perlu disadarkan bahwa anak mereka sangat bergantung hidupnya pada orang lain, terutama orang tua dan keluarga. Anak mereka yang berkebutuhan khusus juga berhak memiliki masa depan dan perlu berlatih untuk terus bisa belajar dan mandiri. Dengan perhatian dan kasih sayang yang tulus akan memunculkan kesabaran orang tua dalam merawat anak mereka termasuk dalam mendidik dan mengantar ke sekolah. Permasalahan kurangnya toleransi dari orang tua siswa reguler adalah masalah serius. Orangtua siswa reguler perlu dihadirkan ke sekolah bersama orang tua siswa inklusi. Kesaksian orang tua inklusi tentang betapa beratnya merawat anak inklusi perlu diperdengarkan pada orang tua siswa reguler. Kehadiran anak inklusi juga diperlukan di hadapan semua orang tua yang diundang. Penjelasan manajemen sekolah tentang anak berkebutuhan khusus juga harus disampaikan. Langkah ini diperlukan untuk menumbuhkan rasa kepedulian dan kasih sayang orang tua siswa reguler terhadap anak-anak berkebutuhan khusus sehingga mereka tidak hanya akan lebih toleran tapi juga akan peduli pada anak berkebutuhan khusus. Permasalahan Guru. Permasalah kurangnya kompetensi guru dalam menangani anak inklusi tidak perlu dijadikan permasalahan serius. Dengan pemahaman yang baik para guru tentang anak inklusi akan melahirkan perasaan cinta dan sayang terhadap siswa-siswa mereka yang berkebutuhan khusus. Perasaan kasih sayang tersebut akan melahirkan perhatian yang lebih terhadap anak mereka yang abnormal tersebut. Perhatian dan kasih sayang sudah cukup menggantikan kurangnya kompetensi guru dalam menangani anak inklusi. Dengan mengedepankan perhatian dan kasih sayang akan membawa kesadaran para guru untuk meningkatkan kompetensinya bagaimana melayani anak berkebutuhan khusus dengan belajar sendiri, membaca buku terkait maupun mencari informasi melalui internet. Permasalahan kesulitan dalam kegiatan belajar mengajar sudah pasti muncul. Hal ini adalah keniscayaan yang harus disadari guru. Tidak mungkin tidak ada permasalahan ketika mengajar dengan siswa yang bercampur antara siswa inklusi dan siswa normal. Solusi terbaik adalah dengan mengedepankan pendekatan pemberian perhatian khusus dan kasih sayang yang berlebih kepada siswa yang berkebutuhan khusus. Perbedaan perlakuan yang berlebih pada siswa inklusi harus dijelaskan pada siswa reguler sehingga mereka tidak merasa cemburu atau iri hati atas perlakuan istimewa pada teman mereka yang berkebutuhan khusus. Dengan demikian diharapakan akan melahirkan sifat perhatian dan kasih sayang mereka. Sifat empati dan simpati akan muncul sehingga mereka dapat menerima kehadiran teman mereka yang berkebutuhan khusus dan dengan senang hati membantu kesulitan belajarnya. Permasalahan kurangnya pemahaman guru tentang anak inklusi dapat diatasi dengan pemberian kegiatan workshop atau diklat tentang siapa anak inklusi dan seperti apa pendidikan inklusi. Pemahaman ini sangat penting untuk memunculkan rasa perhatian dan kasih sayang guru pada siswa mereka yang berkebutuhan khusus. Dengan perhatian dan kasih sayang yang dilakukan setiap hari akan membuat guru semakin paham siapa anak berkebutuhan khusus itu sehingga akan semakin bertambah kepedulian mereka untuk memberi pelayanan kusus pada siswa istimewa mereka. Permasalahan latar belakang pendidikan guru yang tidak sesuai tidak dapat dijadikan sebagai alasan sebagai masalah besar penerapan pendidikan inklusi di sekolah reguler. Semua tahu, para guru di sekolah reguler tidak dicetak untuk menjadi guru anak berkebutuhan khusus. Solusi masalah ini adalah kembali ke hati nurani para guru. Kalau para guru memiliki hati nurani, mereka pasti tidak keberatan mendapat tugas tambahan itu. Latar belakang guru yang tidak sesuai dapat digantikan oleh latar belakang siswa mereka yang berkebutuhan khusus. Artinya, guru harus tahu latar belakang siswa berkebutuhan khususnya sehingga akan timbul persaan kasih dan sayang yang pada akhirnya akan melahirkan rasa peduli dan perhatian. Perhatian dan kasih sayang sudah cukup dijadikan sebagai modal untuk mendidik dan mengajar siswa mereka yang berkebutuhan khusus. Permasalahan kurang sabarnya guru disebabkan kurang pahamnya mereka terhadap pendidikan inklusi dan anak inklusi. Hal ini berdampak pada kurang semangatnya mereka dalam mengajar, menimbulkan rasa keengganan dan kebosanan. Solusi terbaik adalah guru harus memiliki rasa kasih sayang yang berlebih dengan menganggap anak-anak berkebutuhan khusus sebagai anaknya sendiri, anaknya yang masih sangat membutuhkan perhatian, ketelatenan dan kesabaran dalam mendidik dan mengembangkan potensinya untuk akhirnya bisa hidup mandiri dan memiliki masa depan. Tanpa kasih sayang tidak akan pernah muncul sifat sabar. Permasalahan Siswa. Permasalahan bahwa anak inklusi dengan permasalahan berbeda memerlukan penanganan berbeda. Terdapatnya beberapa anak yang memiliki jenis inklusi yang berbeda dalam satu kelas reguler sudah pasti memerlukan penanganan berbeda. Perhatian dan kasih sayang guru yang luar biasa sangat dibutuhkan untuk memecahkan masalah ini. Dengan perhatian dan kasih sayang guru akan dapat melayani siswanya yang berbeda-beda permasalahan dan jenis inklusinya. Siswa yang tunalaras harus lebih diperhatikan tingkah lakunya, siswa yang tunadaksa harus lebih diperhatikan setiap geraknya, siswanya yang tunagrahita harus lebih diperhatikan rendahnya kemampuan belajarnya, dan seterusnya. Permasalahan anak inklusi kesulitan mengikuti pelajaran. Dengan keterbatasan yang ada pada dirinya, sudah barang tentu akan membuat anak berkebutuhan khusus kesulitan dalam mengikuti pelajaran. Perhatian ekstra yang dilandasi perasaan kasih dan sayang akan menjadi pelita dan penuntun bagi anak-anak berkebutuhan khusus. Dengan kasih sayang pula, guru akan lebih banyak memberi kemudahan baik dalam pemberian materi dengan cara penyerdehanaan materi, kemudahan dalam pemberian soal ujian maupun bentuk-bentuk dispensasi lainnya. Dengan kasih sayang ekstra seorang guru juga akan tergerak hatinya untuk memberikan waku tambahan lainnya dan bentuk remedial lainnya. Permasalahan anak inklusi belum bisa mengikuti peraturan sehingga mengganggu KBM. Anak berkebutuhan khusus memang agak sulit untuk mematuhi peraturan, terutama anak autis, tunalaras, tuna grahita dan penderita cerebral palsy. Peran guru untuk lebih paham terhadap jenis dan ciri-ciri anak berkebutuhan khusus di atas pasti akan menjadikan guru tahu cara memberi perhatian pada mereka. Kasih sayang dari seorang guru juga akan membuatnya maklum manakala siswa berkebutuhan khususnya melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan peraturan sekolah, nilai-nilai atau norma. Perhatian dan kasih sayang pula yang akan membuat guru telaten mengingatkan, mengarahkan dan menasehati siswa istimewa mereka untuk berperilaku lebih baik sehingga tidak menggangu KBM. Permasalahan siswa reguler yang belum terbiasa atas kehadiran anak inklusi. Permasalahan ini biasa muncul di awal pertemuan anak-anak berkebutuhan khusus dengan siswa reguler. Pemahaman dan penjelasan dari manajemen sekolah tentang pendidikan inklusi dengan hadirnya anak-anak berkebutuhan khusus di kelas reguler harus diberikan pada siswa reguler di awal tahun pelajaran. Hal ini sangat penting dilakukan untuk menghindari adanya sikap resistan siswa regular, menghindari konflik dan mencegah segala bentuk bullying pada anak berkebutuhan khusus. Pemahaman juga penting untuk menimbulkan rasa kasih sayang dan perhatian anak-anak reguler terhadap anak berkebutuhan khusus. Kasih sayang adalah jembatan toleransi yang menghubungkan kesempurnaan fisik siswa reguler dengan teman-teman mereka yang mengalami ketidaksempurnaan fisik tersebut. Permasalahan Kesiapan Manajemen Sekolah. Permasalahan yang dialami oleh sekolah inklusi adalah masalah belum siapnya penyelenggaraan sekolah inklusi. Permasalahan ini sebenarnya hanya masalah waktu dan masalah pemahaman secara bersama seluruh warga sekolah terhadap sekolah inklusi. Dibutuhkan waktu untuk bisa mengelola sekolah inklusi dengan baik. Namun waktu akan terbuang sia-sia tanpa adanya pemahaman tentang sekolah inklusi oleh seluruh warga sekolah. Dan yang terpenting dari pemahaman itu adalah munculnya rasa kasih sayang dan perhatian pada anak-anak berkebutuhan khusus yang hadir di sekolahnya yang tidak boleh dianggap sekedar menumpang di sekolah. Perhatian dan kasih sayang terhadap siswa berkebutuhan khusus adalah ruh yang menyemangati seluruh warga sekolah untuk menyambut dengan suka cita kehadiran siswa baru mereka, teman-teman istimewa mereka. Perhatian dan kasih sayang menjadi jiwa setiap warga sekolah yang di dalamnya mengalir rasa cinta, menghargai, melindungi, membantu, memberi kemudahan, memaklumi dan memaafkan terhadap siswa dan teman khusus mereka dengan segala keterbatasannya. Kesimpulan Pintu-pintu yang tertutup rapat, gembok-gembok yang terkunci, jendela-jendela yang terkancing, tembok-tembok sekolah yang tinggi yang menghalangi masuknya anak inklusi, sesungguhnya sangat mudah untuk membukanya. Perhatian dan kasih sayang adalah kuncinya. Dan orang-orang di dalamnya yang mengintip dan menutup hatinya atas kehadiran anak-anak yang datang dengan dituntun, dengan kursi roda, dengan bicara yang tidak jelas, dengan tingkah yang aneh, dengan wajah yang tidak meyakinkan, sesungguhnya sangat mudah untuk mengetuk dan membuka hatinya. Perhatian dan kasih sayang adalah kuncinya. Perhatian dan kasih sayang kunci keberhasilan pendidikan inklusi. Dartar Referensi Mubarakan, Munzalan. 2016. Jenis_jenis Anak Berkebutuhan Khusus, Ciri-Ciri dan Terapi. Diambil dari : http://simomot.com/2016/09/01/jenis-jenis-anak-berkebutuhan-khusus-ciri-ciri-dan-terapinya. (20 November 2017) Tarnoto, Nisa. 2013. Permsalahan-Permasalahan yang Dihadapi Sekolah Penyelenggara Pendidikan Inklusi Pada Tingkat SD. Diambil dari http://journal.uad.ac.id/index.php/HUMANITAS/article/view/3843/2111HUMANITAS vol. 3 No.1 (20 november 2017)

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.